Kamis, 17 November 2011

Dari Pacar Menjadi Abang

Dari Pacar Menjadi Abang
Sebelum cerita ini dimulai aku akan memberi peringatan kalau cerita ini akan berbau romantis, galau, dan sejenisnya. Diingatkan pula ini ceritaku bukan si Melati, Mawar ataupun Kamboja yaitu nama-nama samaran seperti di berita investigasi, karena ini ceritaku yang tak mau aku samarkan namaku seperti mereka. Kenalkan namaku Alisha Rismawan, anak tunggal dari orang tuaku, pastinya. Oh, ya, panggil aku Al atau Sha. Tetapi jangan sampai memanggilku dengan Shapi, karena itu sangat-sangat memalukan. Umurku saat itu masih 13 tahun, ya masih SMP tetapi yang namanya kasmaran pasti terjadi. Aku tahu kalau kalian pasti mengalaminya pula. Di jaman globalisasi seperti ini pun globalisasi percintaan pasti terjadi. Aku pun saat duduk di kelas 2 SMP mengalami hal tersebut—ralat—kelas 1 SMP aku sudah mulai menyukai sosok lelaki—maksudku mulai ingin berpacaran. Jangan kalian kira selama ini aku menyukai perempuan. Dapat dipastikan aku perempuan normal.
    Kisah ini dimulai saat aku baru masuk salah satu SMP Swasta di Bogor. Sebenarnya tidak ada yang begitu spesial dengan apa yang terjadi saat aku masuk SMP. Bahkan MOSnya saja aku tidak terlalu tertarik. Mungkin adaptasi yang aku perlukan, masih lekat di pikiranku dan sifatku akan sifat anak SD. Jenjang SD menuju SMP menurutku sebuah jenjang yang besar, disaat SD kita sangat kekanak-kanakkan dan di SMP kita dirubah menjadi seorang remaja. Salah sedikit maka aku akan menjadi remaja yang terkena pergaulan yang salah. Bundaku selalu mengingatkanku akan hal tersebut, disaat umur dan SMP inilah aku harus menjaga pergaulanku. Aku pun terkesan memilih teman saat awal-awal SMP, aku dikenal sebagai anak yang tertutup. Terlebih lagi aku masuk ke dalam SMP yang agamanya didominasi non Islam dan aku beragama Islam, ah, semakin tertutup aku saat awal-awal SMP. Tapi itu hanya sebuah awal.
    Aku duduk di kelas 7-5, sebelahan dengan kelas 8-2. Kenapa aku menceritakkan posisi kelas tersebut? Karena posisi kelasku yang bersebelahan itulah yang membuat dunia SMPku berubah. Saat itu pun aku sudah mulai bisa beradaptasi, mempunyai teman dekat bernama Tari. Aku sering berdiri di depan kelas bersama Tari menunggu bel masuk. Saat itulah aku melihat sosok kakak kelas yang aku sukai. Mungkin ia berbeda dengan kakak kelas lainnya. Saat itu lah aku mulai menyelidikinya. Tetapi permasalahan utamanya adalah, dari mana aku memulai mencari tahu tentang dia? Yang pertama aku tidak mempunyai kenalan kakak kelas dan yang kedua aku tidak mungkin bertanya langsung nama dan nomor hp-nya langsung. Terkesan apa banget. Walaupun kami mengenakkan label nama di baju kami, terlalu sulit untuk melirik siapa namanya.
    “Tar, kenal ga sama cowok itu?”
    “Anak 8-2, kan?”
    “Oh, 8-2?”
    “Iya lah bodor! Lah liat aja dia kemana jalannya,”
    Keesokkan paginya Tari bercerita kepadaku ternyata kakak kelas itu bernama Raditya Malik. Tari seangkot dengannya saat pergi sekolah, ternyata rumah mereka searah. Entah mimpi apa aku kemarin malam bisa mendapatkan nama si kakak kelas tersebut. Aku pun langsung mengambil hp dari sakuku dan membuka Friendster. Ya, saat itu masih jaman-jamannya Friendster. Aku pun mencari namanya di situs pertemanan yang memang lagi booming saat aku masih SMP. Aku pun menemukan dirinya di Friendster dan tanpa ragu-ragu aku mengarahkan kursor menuju tombol yang akan menghubungkan aku dengan dirinya, add as friend! Aku berlari ke dalam dan menemui Tari, memukulinya hingga ia marah. Terlalu girang, inikah yang dinamakan kasmaran? Aku pun mengajak Tari untuk berdiri kembali di depan kelas, selain merasakan dinginnya udara Bogor dan aku ingin mencuri lirik ke kakak kelas tersebut. Sayangnya aku telat, ia sudah masuk ke kelasnya. Tahu dari mana? Karena bel sudah berbunyi. Aku pun kembali ke dalam kelas, bersiap menimba ilmu walaupun pikiranku melayang menembus tembok kelasku menuju kelas 8-2. Terkadang guru yang mengajar di kelas sering menegurku karena tidak fokus dalam belajar dan terpaksa pikiranku harus kembali ke kelas 7-5. Terpikir olehku bagaimana aku memulai komunikasi dengan kakak itu? Tidak mungkin aku tiba-tiba mengirimkan pesan dengan tidak jelas. Biarkan waktu yang melakukannya nanti.
    “Al, si Ka R kan lagi deket sama anak 8-5 loh!”
    “Hah? Siapa?”
    “Itu loh Ka Yuna!”
    “Ah, biarin aja yang penting deket dulu, hahaha,”
    Aku pun langsung mengambil hp dari saku. Sekarang lagi waktunya istirahat, seperti biasa aku berdiri di depan kelas, bersandar di tembok penghalang. Aku mencari akun Friendster Ka Yuna tersebut. Walaupun rasanya aku sedih ternyata Ka Radit sedang mendekati perempuan lain. Sehari-hari aku tak pernah melihatnya jalan bersama Ka Yuna. Yang aku lihat ia selalu berjalan bersama teman sekelasnya yang katanya memang sudah menjadi teman dekat untuknya. Aku pun melihat pesan Ka Radit kepada Ka Yuna dan sebaliknya. Mereka memang terlihat sangat dekat, sepertinya memang Ka Radit sangat menyukai Ka Yuna. Sudah dari kelas 7 mereka berhubungan. Aku pun semakin ciut. Saat aku terduduk bersandar di penghalang Ka Radit pun lewat bersama teman dekatnya. Aku mencuri pandang untuk melihat Ka Radit. Ah, sayang sekali jika memang benar ternyata dia memang sedang mendekati Ka Yuna. Bel berbunyi, aku kembali  ke dalam kelas. Pikiranku tak melayang menembus tembok, terperangkap dalam perasaan galau. Lagi-lagi aku ditegur guru karena tidak fokus. Nasib.
    Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Hingga akhirnya aku bertemu dengan kenaikkan kelas dan pembagian rapot. Aku terbangun dari tidurku yang kurang pulas, siapa yang bisa tidur pulas jika dihadapi dengan pembagian rapot? Aku pergi ke sekolah bersama bundaku. Sepanjang perjalanan bundaku mewanti-wanti jika nilaiku jelek aku akan diiniin lah diituin lah. Tapi jika nilaiku bagus aku akan diberikan ini atau itu. Ya, terserah yang terpenting sekarang akhirnya aku mungkin bisa melihat Ka Radit setelah sekian lama tak melihatnya. Walaupun di rumah sepanjang minggu kosong aku selalu membuka akun Friendster-nya. Tetapi jika aku buka maka aku akan ciut sendiri. Melihat pesan antara Ka Radit dengan Ka Yuna yang membuatku cemburu, walaupun aku tak mengerti mengapa aku harus cemburu padahal aku tak mempunyai hubungan apapun dengan Ka Radit. Aku terbangun dari alam bawah sadarku. Rapot sudah menunggu. Aku menunggu di luar bersama Tari, rupanya Tari masuk ke dalam 10 besar. Aku bertukar cerita dengan Tari, aku tentang Ka Radit dan Tari tentang kakak kelas lainnya. Cerita kami terpotong oleh bundaku yang keluar dari kelas.
    “Alisha, nilaimu…,”
    “Kenapa, Bun? Turun?”
    “Naik, masuk 15 besar, selamat ya!”
    Aku pun sangat senang ternyata nilaikku meningkat walaupun kata wali kelasku aku sering sekali bengong di kelas. Bundaku menanyakan kenapa tetapi aku tidak menceritakannya. Ketika aku dan bundaku menuruni tangga aku melihat Ka Radit. Aku pun terdiam, tak berkata apa-apa. Mungkin saat itu wajahku berubah menjadi sangat aneh. Untungnya bundaku tak menyadarinya. Kalau saja aku bercerita tentang yang sebenarnya kepada bundaku saat itu mungkin Ka Radit akan mengetahui selama ini. Tetapi sekali lagi untung saja aku tak bercerita apa-apa. Aku langsung kembali menuju rumah, di perjalanan aku hanya diam. Sampai akhirnya aku mulai bersuara.
    “Bun, liat cowok tadi ga yang naik tangga pas kita turun?”
    “Liat, kenapa? Temen sekelasmu?”
    “Bukan, kata bunda ganteng ga?”
    “Enggak ah, biasa aja, kenapa? Kamu suka ya?”
    “Enggak lah!”
    “Jangan pacaran dulu! Belajar yang bener dulu!”
    Mobil pun kembali hening. Aku terngiang-ngiang akan perkataan bunda kalau aku tidak boleh pacaran. Padahal saat ini perasaanku sebagai perempuan menyukai seorang lelaki sedang meluap-luap. Walaupun mustahil aku berpacaran dengan Ka Radit. Bagaimana bisa Ka Radit tiba-tiba menyatakan perasaannya kepadaku padahal aku dan dia sama sekali belum pernah berkomunikasi. Tetapi aku semakin suka dengan dirinya. Sikap dinginnya itulah yang membuat aku semakin suka. Apalagi setelah aku mengetahui ternyata dirinya beragama Islam juga. Bagaimana aku tidak berandai-andai berpacaran dengannya? Aku mengambil majalah sekolah yang dikasih bersama dengan rapot. Isinya yang kurang lebih tidak ada yang menarik, hanya ada puisi, cerpen, dan artikel-artikel yang kurang menarik. Tetapi satu artikel yang sangat menarik yaitu artikel buatan Ka Radit. Aku tak mengerti apa isi artikel tersebut yang bercerita tentang komunitas Harry Potter, yang terpenting aku punya alasan bagaimana untuk memulai komunikasi dengan Ka Radit.
    Aku pun memulai agresiku saat liburan. Mulai mengirim pesan melalui Friendster sampai akhirnya aku mempunyai nomor hp-nya. Aku mulai bertanya-tanya tentang artikel Ka Radit. Entah apa yang ia ceritakan yang terpeting aku bisa berhubungan dengannya. Hari demi hari berlanjut. Sekolah pun sudah mengundang kami untuk menjadi tamu tetapnya sampai 6 bulan kemudian. Semilir angin pagi mebangunkanku dari rasa kantuk. Menginjakkan kaki ke kamar mandi, berpakaian, sarapan dan akhirnya menuju mobil. Rutinitas yang akan ditempuh sampai liburan akhir semester lainnya. Keadaan sekolah di hari pertama itu sangat menyeramkan. Seluruh siswa berdesak-desakkan mencari di kelas mana akan di tempatkan. Aku pun harus menghadapi kenyataan bahwa aku harus berpisah dengan Tari. Aku di kelas 8-5 dan Tari di kelas 8-4. Walaupun bersebelahan tetap saja aku tidak bisa bercerita dengan Tari di jam pelajaran. Tetapi untung saja masih ada temanku lainnya. Aku pun dengan sengaja melihat daftar kelas 9. Mencari di mana nama Ka Radit tertera yang ternyata di 9-4, kelas terakhir di deretan kelas 9. Yang pertama terpikir olehku adalah ketika UTS nanti kelas kami akan digabungkan. WOW!
    “Tar! Gue sms-an sama Ka R, loh!”
    “Anjir! Demi?”
    “Beneran, nih liat aja!”
    “Dapet dari mana lu nomornya?”
    “Gue gitu, loh,”
    Tari pun mencubit pipi gue.
    “Tar, si Ka R itu ternyata orangnya ramah banget,”
    Tari menyikut pinggang gue. Ternyata Ka Radit jalan ketika aku bercerita tadi. Alhasil aku pun diam seribu kata. Setelah Ka Radit menjauh aku pun berlari menuju kelas dan berteriak. Betapa malunya aku jika Ka Radit sadar akan apa yang aku bicarakan tadi. Bukannya menangkan tetapi Tari malah mentertawakan. Semoga saja Ka Radit tidak berpikiran yang macam-macam. Semoga saja sikapnya tak berubah. Ternyata Ka Radit sepertinya tidak mendengar pembicaraanku, sikapnya masih seperti biasa. Hari demi hari pun berlalu. Ka Radit selalu berjalan menuju kelasnya melewati kelasku, aku datang lebih cepat darinya maka aku bisa melihatnya setiap pagi. Senyumannya ketika bertatap muka denganku membuatku melting. Darahku mengalir dingin, seketika darahku menjadi panas kembali. Tamparan tepat di pipi membuatku tersadar. Temanku lainnya yang bernama Jeselyn, ia pun tahu kalau aku menyukai Ka Radit. Selama ini aku pergi dan pulang sekolah bersama Jeselyn. Setidaknya satu mobil Jeselyn mengetahui kalau aku menyukai Ka Radit.
    Aku melihat Ka Radit yang murung, seperti membawa beban di punggungnya. Tak berani melihat ke depan. Tatapan matanya kosong. Senyumannya pun tak sehangat dulu. Ia pun jarang terlihat keluar dari kelas saat istirahat. Hanya terlihat saat solat Zuhur saja. Aku pun menjadi rajin solat karena melihat Ka Radit rajin solat. Tetapi sama seperti sebelumnya, Ka Radit menjadi seorang yang pemurung. Setelah solat Tari pun menarikku menjauhi Mushola.
    “Al, tau ga tentang si Ka R?”
    “Tau apa?” tanyaku dengan sangat penasaran.
    “Dia keliatan murung, kan?” hatiku mencelos.
    “Iya, lu tau, Tar?”
    Tari menceritakan semuanya yang ia tahu. Ka Yuna ternyata berpacaran dengan sahabat Ka Radit. Mereka mulai berpacaran saat study tour ke Jogjakarta beberapa hari lalu. Aku pun mengerti kenapa Ka Radit murung. Aku mengerti perasaan Ka Radit. Mengejar Ka Yuna sekian lama alih-alih berpacaran dengan sahabat sendiri. Pasti hal yang menyakitkan sekali. Mungkin ini bagus untukku, bisa mengambil perhatian Ka Radit. Tetapi aku tidak setega itu untuk berpura-pura perduli. Tetapi beberapa hari setelah aku mendengar cerita Tari, sikap Ka Radit kepadaku sangat hangat, aku pun membalasnya dengan hangat. Seperti memberikan aku harapan. Semoga saja bukan harapan kosong belaka. Karena aku sudah menaruhkan harapanku kepadanya. Tari pun nampaknya menyembunyikan sesuatu dariku. Tetapi aku tidak ingin menggubrisnya. Seperti biasa, biarkan waktu yang menyelesaikannya dan memberitahukannya kepadaku.
    I can’t wait the end of 2009!
    Aku melihat kata-kata tersebut di status Friendster Ka Radit. Aku bertanya-tanya ada apa dengan akhir tahun? Sedangkan akhir tahun bundaku merencanakan untuk liburan ke Singapore. Tari pun mewanti-wanti kepadaku untuk menerima kejutan di akhir tahun. Entah dari siapa itu aku harus bersiap-siap, katanya. Aku tak mau memperdulikan hal tersebut, yang penting Senin besok UTS akan berlangsung dan apakah aku akan sekelas dengan Ka Radit? Semoga saja. Tetapi yang aku dapatkan hanya kekecawaan, kelasku dipisah menjadi dua. Karena namaku dari A aku kebagian kelas di atas. Dari abjad M ke bawah mendapatkan kelas di bawah bersama Ka Radit. Tetapi aku tetap bisa melihat Ka Radit. Aku selalu menunggu bel masuk di bawah berpura-pura belajar bersama teman-temanku. Sesekali melempar pandang ke Ka Radit, tawanya bersama teman-temannya itu sangat lucu. Ah, namanya juga orang kasmaran. Apapun yang dilihatnya pasti akan menjadi lucu. Tetapi seminggu itu seperti waktu yang singkat.
    “Ka Radit itu orangnya baik banget loh, pinter lagi!”
    “Aih, jangan menggoda dong ah!”
    Helena teman sekelasku.
    Akhirnya aku pun bertemu dengan akhir semester yang berarti liburan semester lainnya dan yang terpenting mendekati akhir tahun, apa yang akan terjadi di akhir tahun? Aku pun semakin bertanya-tanya. UAS pun telah dilewati, kembali dengan minggu kosong. Hari-hariku terisi oleh Ka Radit yang sering mengirimkan aku SMS. Perempuan mana yang tidak terbang jika mendapatkan SMS dari orang yang mereka sukai? Aku pun terbang jika Ka Radit mengirimkan aku SMS, walaupun terkesan SMSnya dari hari ke hari sama tetap saja aku ingin terbang. Saat itu pun aku mengikuti kebiasaan Ka Radit dimulai dengan Ka Radit mulai bermain dengan Facebook, aku pun ikut membuat akun Facebook. Sampai dengan akhirnya aku mendekati akhir tahun yang berarti aku harus putus hubungan dengan Ka Radit, karena aku akan berlibur di Singapore untuk beberapa hari. Berat rasanya memang.
    “Awas matanya jelalatan liat cowok-cowok bule di sana, hahahah,”
    “Yee, cuci mata kali, ka!”
    Itulah SMS terakhirku ke Ka Radit. Bunda sudah memastikan tanggal 31 sudah pulang, karena katanya malas merayakan tahun baru di Singapore, sudah tidak ada kerabat dan di sana semakin ramai menjelang akhir tahun. Akhirnya malam tahun baru pun aku kembali dari Singapore, sesampainya di Indonesia aku menerima pesan dari Ka Radit,
    Kalau sudah sampai di Indo, sms ya!
    Baru saja aku mendarat, aku sudah diajak terbang menjelajahi angkasa bersama Ka Radit. Aku pun dengan segera membalas SMS Ka Radit. Kami pun akhirnya kembali SMS-an, bercerita satu sama lain. Ternyata Ka Radit sedang di Jakarta di tempat tantenya untuk merayakan tahun baru bersama. Aku pun langsung menuju rumah dari bandara. Sepanjang perjalanan pun aku SMS-an dengan Ka Radit. Bundaku pun heran melihatku, sikapku yang berubah akhir-akhir ini mencuri perhatian bunda.
    “Kamu udah punya pacar?”
    “Belum lah, bun!”
    “Awas ya kalau kamu pacaran!”
    Jantungku berdetak lebih cepat. Rasanya kata-kata bunda tersebut dapat menghentikan jantungku. Aku takut sekali jika bunda benar-benar marah karena aku berpacaran. Pikiranku langsung teralih ketika mobil berhenti. Sudah sampai di rumah. Aku berniat untuk tidur saja, tidak ada yang menarik di malam tahun baru. Sama seperti malam-malam biasa, kan? Sebenarnya teman-teman kompleksku mengadakan acara di rumah Jeselyn tetapi aku terlalu lelah untuk ikut. Saat itu aku masih SMS-an dengan Ka Radit, ia menyuruhku untuk tidak tidur sampai pergantian tahun. Apa daya, aku pun menonton acara di televisi untuk menahan kantuk. Sampailah dengan pergantian tahun, hp bordering tanpa henti. SMS-SMS masuk, ucapan selamat tahun baru. Biasa saja. Ka Radit pun mengirimkan ucapan selamat tahun baru, tetapi jantungku seakan-akan berhenti. Seakan-akan udara dingin malam mengendap-endap memasuki ruangan dan mendinginkan suhu ruangan secara drastis. Aku pun tak percaya dengan isi pesan Ka Radit.
    Selamat tahun baru! Semoga di tahun yang baru kita menjadi orang yang lebih baik! Dan kalau bisa di tahun yang baru hubungan kita tidak sebatas teman, lebih dari teman. Mau jadi pacarku?
    Harus aku balas dengan apa? Aku memang menunggu saat ini. Tetapi di satu sisi aku teringat apa kata bundaku. Aku memilih mengambil resiko.
    Wah, kakak tau ga selama ini yang aku omongin? Aku kan ngomongin kakak. Hehehe. Aku mau kok jadi pacar kakak.
    Malam itu pun menjadi malam yang terindah untukku. Bukankah aku mengatakan sebelumnya kalau mustahil aku berpacaran dengan Ka Radit? Tetapi pada akhirnya aku berpacaran dengan Ka Radit. Benar-benar tak menyangka. Biarkan waktu yang menjawabnya. Hari-hariku pun berubah semenjak berpacaran dengan Ka Radit. Aku sangat berhati-hati setiap Ka Radit mengirimkan pesan. Jangan sampai bundaku tahu. Hubungaku dengan Ka Radit pun berjalan lancar sampai dengan akhir Januari. Walaupun di sekolah aku tak seperti berpacaran. Tetapi yang namanya bangkai disimpan bagaimanapun pasti akan tercium juga baunya. Bundaku membaca SMS dari Ka Radit. Saat itu aku tertidur di depan televisi dan hp tergeletak dengan indahnya dengan keadaan menyala dengan tampilan SMS dari Ka Radit. Ketika aku bangun dari tidur seperti mendapat hantaman besar di kepala. Bundaku sudah marah-marah duluan sebelum aku menjelaskan apapun. Walaupun pada akhirnya bundaku menerimanya dengan sedikit terpaksa. Aku mengenalkan Ka Radit melalui cerita-ceritaku walaupun bunda memasang wajah sangar. Aku pun bercerita kepada Ka Radit dan sampai akhirnya bundaku pun secara terang-terangan memarahiku di Facebook dan di situ pula Ka Radit sedang berkomentar tentang statusku.
    “Kamu dimarahi sama bundamu?”
    “Iya, sih,”
    “Aku ga tega ngeliatnya,”
    Ka Radit, mungkin emang cowok so sweet idaman perempuan. Perhatian dan bisa mengerti perempuan. Mungkin karena bisa memahami sifat perempuan hubungan aku dengan Ka Radit pun selesai di pertengahan Februari. Ka Radit tidak tega melihat aku setiap hari dimarahi oleh bunda, entah di rumah entah di Facebook. Menurutnya lebih penting hubunganku dengan bunda daripada dengan Ka Radit.  Sebenarnya aku pun tak mau berpisah. Ini semua hanya karena bundaku yang terlalu keras. Ka Radit pun berpesan, jangan marah ke bunda. Akhirnya aku pun menerima keputusannya. Dengan berat hati, tentu.
    “Putus lu sama Radit?”
    “Iya,”
    “Karena bunda lu?”
    “Iya,”
    “Yakin? Bukan karena Ka Yuna putus sama pacarnya?”
    Aku pun berhenti berbicara. Apakah mungkin Ka Radit putus untuk mendekati Ka Yuna lagi? Aku tidak mudah percaya dengan apa kata Tari, tetapi mana mungkin Tari berbohong. Pikiranku pun langsung berubah. Ternyata Ka Radit bukan lelaki yang baik seperti dugaanku. Akhirnya aku dan Ka Radit pun berseteru. Ka Radit pun selalu mengelak. Sampai pada akhirnya aku pun kembali berpikir, kembali mengenali Ka Radit—Ka Radit mana mungkin berlaku seperti itu. Aku hanya terbakar emosi semata—emosi—salah satu yang berbahaya untukku diusia yang masih muda ini. Seperti kataku di awal cerita, jika aku salah pergaulan atau salah membentuk kepribadian maka aku akan seperti sampai dewasa nanti. Akhirnya aku pun bermaafan dengan Ka Radit. Untung saja Ka Radit bukanlah orang yang pemarah, ia sabar. Aku kembali akrab dengannya. Bukan sebagai seorang pacar, tetapi sekarang aku menganggap dirinya sebagai abangku sendiri.

Ya, ini lah cerpen buatanku untuk tugas Bahasa Indonesia dengan pengubahan sebanyak-banyaknya dari cerita asli =))

0 komentar:

Poskan Komentar